Ini bukan puisi, bukan pula syair yang terjalin pada nada.
Ini hanya sebuah tulisan kecil yang tak bisa terungkap untuk Mama.
Ma, I may not urs favorite
No matter what Av done, it just looked ordinary.
Ma, I may not the only one
Who stay and laugh with you all this time.
But, as your ninth
Am trying to give you hint
That Am always trying.
Ma, I apparently know it
When you're silently backing me up as Am doing mistakes and errors while Am growing up.
Ma, the time might be so tight
For you to guide me seeing which are wrongs and rights.
Of all things, I want you to know
That Am very blessed and grateful to be ur companion like right now and on.
Its all thanks to the Lord, Allah Karim.
For giving us time to know each other better
And still pouring me blessings by staying with you-Mam, closer.
Now,
for keeping her healthy,
for letting her smile,
for giving her time to breath,
for strengthening her mind and soul,
for embracing her and for granting her deep wishes,
Those are all I pray, Allah.
Cuz its my only present on her birthday I could give.
Least,
Terima kasih Mama, sudah bertahan dan begitu sabar mengasihi kami, anak anakmu.
Selamat
ulang tahun ke 63, semoga Allah berikan kesehatan dan umur yang manfaat
untuk Mama lebih dekat lagi dengan Nya. Amin ya Rabb al 'Alamin
Love you much,
The ninth- Nur Maw'izhatillah
05 Juli 2015; 6.10am
Rabu, 19 Oktober 2016
Selamat Hari Raya Idul Fitri, Pak
Hari telah berlalu,
Putaran waktu masih mendampingi kami meniti jalan hidup di dunia,
Masih belum berhasil.
Tapi,
Rasa percaya yang Bapak tanam kuat kuat,
Menjadikan kami pribadi yang terus berusaha menjadi lebih baik.
Karena Bapak, karena Mama,
Dan semua kucuran doa.
Tulisan Numa ini,
Adalah serangkaian kasih dan rindu yang tak berupa air mata.
Tulisan ini, menyimpulkan senyum bahgia karena Bapak telah mendidik dan memercayai kami untuk berdiri berdamping dampingan, saling menguatkan, dan saling mengingatkan dengan kesabaran.
Oya, Anak anak Bapak, yang begitu Bapak khawatirkan membawa kabar gembira.
Semoga Bapak bahgia.
Esok Hari Raya menjelang, Pak
Semoga takbir dan doa doa kami, Mama,
Menggempitakan setiap sudut tempat baringmu.
Numa mohon maaf, bila banyak lalai dan bodoh kala menemani Bapak.
Selamat Hari Raya Idul Fitri, Pak.
Terima kasih. Numa bangga jadi anak Bapak.
_suduthijau, 27 Juli 2014; 2.29 am
Putaran waktu masih mendampingi kami meniti jalan hidup di dunia,
Masih belum berhasil.
Tapi,
Rasa percaya yang Bapak tanam kuat kuat,
Menjadikan kami pribadi yang terus berusaha menjadi lebih baik.
Karena Bapak, karena Mama,
Dan semua kucuran doa.
Tulisan Numa ini,
Adalah serangkaian kasih dan rindu yang tak berupa air mata.
Tulisan ini, menyimpulkan senyum bahgia karena Bapak telah mendidik dan memercayai kami untuk berdiri berdamping dampingan, saling menguatkan, dan saling mengingatkan dengan kesabaran.
Oya, Anak anak Bapak, yang begitu Bapak khawatirkan membawa kabar gembira.
Semoga Bapak bahgia.
Esok Hari Raya menjelang, Pak
Semoga takbir dan doa doa kami, Mama,
Menggempitakan setiap sudut tempat baringmu.
Numa mohon maaf, bila banyak lalai dan bodoh kala menemani Bapak.
Selamat Hari Raya Idul Fitri, Pak.
Terima kasih. Numa bangga jadi anak Bapak.
_suduthijau, 27 Juli 2014; 2.29 am
Titip Rindu Untuk Bapak
Tuhan, saya titip rindu ini untuk Bapak.
Maaf, karena saya masih menangis saat hening ini meraja dan segala kenang tumpah ruah.
Tuhan, saya titip rindu ini untuk Bapak.
Maaf, karena ternyata saya masih bgitu sibuk menggelar langkah untuk hidup di dunia.
Tuhan, saya titip rindu ini untuk Bapak.
Maaf, karena Bapak harus menyaksikan saya dan diri saya yang senyatanya.
Maaf, karena kami masih mencari jejak jejak nasihat yang masih berserak.
Tuhan, saya titip rindu ini buat Bapak.
Tangis ini mengantarkan rasa kehilangan yang begitu besar.
Dan doa yang mengalir ini, semoga bisa Kau nyatakan sebagai bakti hamba padanya, Tuhan.
Allaah yaa Rabb, hamba titip rindu ini untuk Bapak, beserta semua cinta yang tak pernah terungkap.
Saya merindukannya. Sangat merindukannya.
Rumah hijau, 20 Mei 2014; 00.43am
Maaf, karena saya masih menangis saat hening ini meraja dan segala kenang tumpah ruah.
Tuhan, saya titip rindu ini untuk Bapak.
Maaf, karena ternyata saya masih bgitu sibuk menggelar langkah untuk hidup di dunia.
Tuhan, saya titip rindu ini untuk Bapak.
Maaf, karena Bapak harus menyaksikan saya dan diri saya yang senyatanya.
Maaf, karena kami masih mencari jejak jejak nasihat yang masih berserak.
Tuhan, saya titip rindu ini buat Bapak.
Tangis ini mengantarkan rasa kehilangan yang begitu besar.
Dan doa yang mengalir ini, semoga bisa Kau nyatakan sebagai bakti hamba padanya, Tuhan.
Allaah yaa Rabb, hamba titip rindu ini untuk Bapak, beserta semua cinta yang tak pernah terungkap.
Saya merindukannya. Sangat merindukannya.
Rumah hijau, 20 Mei 2014; 00.43am
Langganan:
Postingan (Atom)