Rabu, 19 Oktober 2016

Surat untuk Bapak

Assalamu'alaikum. 
 
Sudah setahun lebih, Pak. 
Numa meneruskan perjalanan tanpa Bapak. 
 Banyak, banyak sekali yang terjadi. 
Tapi satu hal, toga numa tahun ini, 
numa persembahkan buat Bapak meski cukup terlambat. 
 
Oya.. 
Dibingkai kali ini, 
numa sisakan ruang untuk bapak berdiri. 
Disamping numa, tersenyum simpul nan lega. 
 Satu lagi anakmu sarjana. 
 Buah kerja kerasmu, dan untaian doa.
 
Terima kasih, Pak. 
Untuk semua usaha, kerja keras, nasihat dan doa Bapak selama ini.
 
Pak, numa sarjana! 
Semoga ilmu ini bermanfaat bagi sesama dan Allah meridhainya. 
Aamīn yā Rabbal'alamīn.
 
Bapak... Numa rindu.
Ada haru dalam dada 
Yang kali ini mengalir lewat air mata.
 
-Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fu'anhu.- 
Semoga doa ini bisa mewakili ratusan kata yang tak mampu terucap.


In loving memory of,
Anakmu yang kesembilan, 
Nur Maw'izhatillah, S.Pd.
 
Tangerang Selatan, 
29 November 2015; 7.00 am

Untuk Mama

Ini bukan puisi, bukan pula syair yang terjalin pada nada.
Ini hanya sebuah tulisan kecil yang tak bisa terungkap untuk Mama.

Ma, I may not urs favorite
No matter what Av done, it just looked ordinary.

Ma, I may not the only one
Who stay and laugh with you all this time.

But, as your ninth
Am trying to give you hint
That Am always trying.

Ma, I apparently know it
When you're silently backing me up as Am doing mistakes and errors while Am growing up.

Ma, the time might be so tight
For you to guide me seeing which are wrongs and rights.

Of all things, I want you to know
That Am very blessed and grateful to be ur companion like right now and on.

Its all thanks to the Lord, Allah Karim.
For giving us time to know each other better
And still pouring me blessings by staying with you-Mam, closer.

Now,
for keeping her healthy,
for letting her smile,
for giving her time to breath,
for strengthening her mind and soul,
for embracing her and for granting her deep wishes,
Those are all I pray, Allah.
Cuz its my only present on her birthday I could give.

Least,
Terima kasih Mama, sudah bertahan dan begitu sabar mengasihi kami, anak anakmu.
Selamat ulang tahun ke 63, semoga Allah berikan kesehatan dan umur yang manfaat untuk Mama lebih dekat lagi dengan Nya. Amin ya Rabb al 'Alamin

Love you much,
The ninth- Nur Maw'izhatillah
05 Juli 2015; 6.10am

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Pak

Hari telah berlalu,
Putaran waktu masih mendampingi kami meniti jalan hidup di dunia,
Masih belum berhasil.

Tapi,
Rasa percaya yang Bapak tanam kuat kuat,
Menjadikan kami pribadi yang terus berusaha menjadi lebih baik.
Karena Bapak, karena Mama,
Dan semua kucuran doa.

Tulisan Numa ini,
Adalah serangkaian kasih dan rindu yang tak berupa air mata.

Tulisan ini, menyimpulkan senyum bahgia karena Bapak telah mendidik dan memercayai kami untuk berdiri berdamping dampingan, saling menguatkan, dan saling mengingatkan dengan kesabaran.

Oya, Anak anak Bapak, yang begitu Bapak khawatirkan membawa kabar gembira.
Semoga Bapak bahgia.

Esok Hari Raya menjelang, Pak
Semoga takbir dan doa doa kami, Mama,
Menggempitakan setiap sudut tempat baringmu.

Numa mohon maaf, bila banyak lalai dan bodoh kala menemani Bapak.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Pak.
Terima kasih. Numa bangga jadi anak Bapak.

_suduthijau, 27 Juli 2014; 2.29 am

Titip Rindu Untuk Bapak

Tuhan, saya titip rindu ini untuk Bapak.

Maaf, karena saya masih menangis saat hening ini meraja dan segala kenang tumpah ruah.

Tuhan, saya titip rindu ini untuk Bapak.

Maaf, karena ternyata saya masih bgitu sibuk menggelar langkah untuk hidup di dunia.

Tuhan, saya titip rindu ini untuk Bapak.

Maaf, karena Bapak harus menyaksikan saya dan diri saya yang senyatanya.

Maaf, karena kami masih mencari jejak jejak nasihat yang masih berserak.

Tuhan, saya titip rindu ini buat Bapak.

Tangis ini mengantarkan rasa kehilangan yang begitu besar.

Dan doa yang mengalir ini, semoga bisa Kau nyatakan sebagai bakti hamba padanya, Tuhan.

Allaah yaa Rabb, hamba titip rindu ini untuk Bapak, beserta semua cinta yang tak pernah terungkap.

Saya merindukannya. Sangat merindukannya.



Rumah hijau, 20 Mei 2014; 00.43am

Belum,

Sebanyak kisah ini tertulis, sebanyak-
Itu pula kubaca.

Kisah yang belum bertanda baca
Bahkan koma-mungkin,
Tak cukup sempurna
Untuk melengkapi rentetan kata
Kisahnya.

Ya, aku masih seperti dulu
Menikmati semua ramu katamu.

Karena hanya lewat ini
Tak ada tengkar yang menghalangi kita
-Bicara.


Rumah hijau, 5 Maret 2014; 6.47 pm.
_tujuhlentera

Coretan buat Bapak

Tiga hari sudah berlalu
Air mata seharusnya telah kering
Namun, bau-nya yang masih menyisa di setiap helaan-
Di seluruh sudut rumah ini
Membuat bulirnya jatuh sesekali.

Dan kini Rumah pikuk dengan doa doa
-Untuk-nya.
***

Bapak,
Ini tulisan kedua numa yang lagi lagi tak bisa Numa tunjukan pada Bapak.
Tapi, dengarkan sajalah,
Numa akan menceritakannya.
Dengarkan sajalah.
***

Bapak,
Ada yang belum numa kisahkan sama Bapak
Tentang kesepian numa kala itu
Kala numa belum kenal Bapak
Kala Bapak terasa begitu jauh
Tiada pernah ada

Bapak,
Ada penggalan hidup yang belum juga numa ceritakan sama Bapak
Ketika serta merta Bapak hadir dengan kerut tua
Dan mengisi kosongnya singgasana 'Ayah' di hati numa

Bapak,
Padahal sudah puluhan tahun Numa lahir sebagai anak Bapak
Tapi, euforia seorang anak itu baru terasa kala masuk SMA

Meski begitu,
Numa bahagia.

Oya Pak,
Beberapa tahun lalu, kita pernah berdiskusi,
Tentang bagaimana seseorang seharusnya hidup,
Tentang untuk apa seharusnya seseorang hidup,
dan tentang apa saja yang telah Numa jalani dalam hidup.
Masih ingatkah?
Nasihat dan prinsip itu Bapak tancapkan kuat kuat di jiwa ini.

Bapak,
Pernah juga sekali dalam seumur hidup ini bersamamu
Numa dendangkan sebuah lagu
'Titip Rindu Buat Ayah' nya Ebiet yang sendu
yang membuat air matamu luruh

Bapak,
Tahukah?
Betapa bahgianya bisa melihat air matamu jatuh
Terasa seperti cengkraman label berhati dingin-mu juga ikut luruh

Numa bahagia.

Suatu ketika,
Kita bertengkar -dan dalam sedih
numa buatkan secarik puisi maaf untukmu
Namun toh kita baik lagi karena rindu
Bukan karena puisi maaf itu.

Oya, dan sepiring Mie Aceh
Pernah membuat kita begitu dekat
Cerita dan tawa kita bagi bersama
Ingatkah?

Bapak,
Numa bahagia.

Ah, Sampailah akhirnya cerita ini harus Numa hentikan, Pak.
Karena Mama sudah memanggil, mungkin cemburu.

Pak,
Meski tulisan dan coretan ini tak pernah bisa Bapak lihat,
Tapi Numa bahagia, karena masih bisa menyoretkannya untuk Bapak,
Untuk mengenang saat saat kita bersama.

Kalau ada yang Numa sesali,
Itu adalah karena Bapak harus pergi sendiri
Begitu dingin dan sepi

Maafkan kami, Pak
Maafkan Numa, Bapak.
***

Selamat jalan Ayahanda.
Ananda akan senantiasa berdoa
Agar benderang kuburmu
Agar lapang tempat istirahatmu
Agar segala dosa terampuni dan semua amal ibadah Allah terima.

Pergilah Ayahanda,
Air mata ini bukan untuk menyesali kematianmu
Namun, untuk melepas perjalananmu kepangkuan-Nya
yang lebih menyayangimu dibanding kami.

Semoga kita dipertemukan kembali di Surga-Nya, Aamiin.
***

Numa sayang sama Bapak.
Jakarta, 21 Januari 2014; 23.49


Untuk Bapak
(Alm. H. Ramli Aminoto / 7 April 1939 - 18 Januari 2014)